SIFAT UNIK ADALAH KELEBIHAN
Kebanyakan pemimpin pergerakan nasional kita memiliki sifat serupa : jujur, tahan menderita, dan rela menolong sesama. Secara individualpun karakter mereka cukup unik. Apa saja sifat unik mereka? Berikut 5 tokoh pergerakan nasional Indonesia, dan sifat unik mereka :
1. BUNG KARNO
Bung Karno seorang kutu buku yang koleksinya terlengkap di Bengkulu.
Semasa diasingkan di Bengkulu, Bung Karno adalah kolektor buku ilmiah terbesar di sana. Ia betah duduk berjam-jam di perpustakaan. Hooijkas, Jr, anak seorang Residen di Bengkulu, sangat mengagumi koleksi buku buku ilmiah mutakhir berbagai bidang. Ia bertanya, mengapa BK serius belajar. Bung Karno menjawab," orang muda, saya harus belajar dengan giat sekali, Insya Allah saya akan menjadi seorang presiden negri ini."
Kala itu, kisah ini menjadi bahan ejekan orang Belanda di Bengkulu. Tapi belakangan mereka terkejut, apa yang menjadi cita- cita besar BK terwujud.
2. BUNG HATTA
Bung Hatta, dijuluki Mahatma Gandhi dari Indonesia. Tahun 1933 bung Hatta ke Jepang menyertai pamannya, Mak Etek Ayub Rais, sebagai penasihat bidang niaga. Kedatangan yang juga disertai mitra bisnis Jepang bernama Ando itu tercium pers Jepang. Wartawan menyambut Bung Hatta dengan sebutan "Gandhi dari Indonesia". Di Tokyo Bung Hatta diundang wakil ketua paelemen Jepang. Pihak Jepang mengundang Bung Hatta berkunjung ke Manchuria, tapi secara halus ditolaknya. Bung Hatta tidak suka dengan militer Jepang maupun imperialisme Belanda. Beberapa orang kuat membujuk termasuk menteri pertahanan Jenderal Araki. Menurut Araki, kalau Bung Hatta bersedia, kapal Jahore Maru siap berangkat dari Kobe. Bung Hatta tetap menolak, gagal total lah keinginan Jepang untuk memperalat Bung Hatta.
3. BUNG SJAHRIR
Bung Sjahrir yang cerdas dan lihai, adalah salah seorang pemimpin bawah tanah dibawah pendudukan Jepang, yang berani mendengarkan siaran radio sekutu. Padahal nyawa adalah taruhannya, karena ada larangan keras untuk mendengarkan siaran radio sekutu.
Dalam lemari di kamarnya tersimpan radio yang memantau berita kemenangan sekutu, termasuk penyerahan Jepang. Berita itu diteruskan Sjahrir kepada Bung Hatta. Suatu ketika Sjahrir pergi ke Cipanas ke rumah iparnya untuk menyimpan radio di rumah iparnya karena dia mendapatkan radio pengganti. Beberapa bulan kemudian Sjahrir bermaksud untuk mengambil radio yang dititipkan di rumah iparnya, tapi dia kecewa karena radio itu rusak. Rupanya iparnya takut tertangkap, dan dia menyembunyikan radio itu dengan dipendam di dalam tanah.
4. SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX
Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dermawan, adalah raja yang tidak hanya dicintai rakyat DIY, tetapi juga oleh rakyat Indonesia. Saat agresi militer II ( 1949 ), "Sultan memberi bantuan dari pundi-pundi pribadinya". Mata uang Belanda yang seharusnya dimusnahkan, disimpannya sebagai kas kesultanan. Itulah yang secara diam - diam dibagikan kepada para pegawai pusat maupun daerah.
Istri para petinggi yang suaminya ditahan pun mendapat bagian, antara lain Ny. Fatmawati dan Ny. Rahmi Hatta. Ibu Hatta masih menyimpan kenang-kenangan beberapa uang rupiah logam perak pemberian Sultan yang demokratis itu. Sri sultan Hamengku Buwono IX adalah seorang yang disegani Belanda, sertag dekat juga dengan sipil dan militer Indonesia yang bersiteru.
5. KI HAJAR DEWANTARA
Ki Hajar Dewantoro dan kritik yang mengegerkan penjajah.
Ki Hajar Dewantara adalah seorang pejuang yang gigih dalam mempropagandakan perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai tulisannya yang anti kolonial, pedas dan komunikatif ketika menjadi wartawan di beberapa surat kabar, seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.
Tahun 1913 Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantoro dengan tajam menyerang Belanda melalui tulisannya "Als Ik Nederlander Was" yang dimuat di De Express. Dalam tulisanya yang dimaksudkan bagi peringatan seabad Nederland merdeka itu, Ki Hajar berandai - andai.
Seandainya dia orang Belanda, dia akan memberikan kemerdekaan kepada tanah jajahannya.
Tulisan itu menggegerkan Belanda. Didalam negeri gayungpun bersambut. Komite Bumiputera yang dibentuk kaum terpelajar Indonesia minta kepada Ratu Belanda untuk selekas mungkin merealisasikan "Indisch Parlement" di Hindia. Akibatnya Ki Hajar harus menghadap Parket (Kejaksaaa ) Belanda dan menempuh segala resiko.
Sumber artikel Intisari, Agustus 2001.






Post a Comment